WELCOME to MY BLOG

Bagi akhi & ukhti yang ingin meng-copy catatan ato artikel di blog ini, mohon cantumkan sumber setiap catatan di tersenyumlah-hati.blogspot.com demi menjaga keaslian tulisan / karya ato share dilaman networking via share tool dibawah setiap catatan...

Mari berbagi...


- Tersenyumlah -

Selasa, 06 November 2012

Makhluk paling Buruk


Seorang murid sebuah pesantren, sedang menghadapi ujian terakhir dari sang Mursyid. “Ketahuilah, pengetahuanmu telah cukup mumpuni untuk lulus dari pendidikan pesantren ini. Dengan predikat terbaik, insya Alloh.” Sang Mursyid tersenyum bangga, begitu juga dengan sang murid.

Sang Mursyid melanjutkan “Namun, ada satu pertanyaan yang harus kau jawab sebagai ujian penutup. Jika kau sanggup menjawabnya, maka kau dinyatakan lulus. Bersediakah kau?”

Senyum sang murid kembali terkembang, dengan bersemangat ia berkata : “Lalu apa pertanyaan itu guru?” Sang Mursyid menghela nafas, lalu melanjutkan :

“Dalam tiga hari, pergilah berkelana kemana saja kau mau. Dan bawakan aku suatu makhluk yang paling buruk di dunia ini, yang lebih buruk dari pada engkau. Tiga hari lagi, kita bertemu kembali ditempat ini.”

Dengan sedikit kebingungan, sang murid menyanggupinya, lalu ia pamit untuk berkelana selama tiga hari. Disepanjang perjalanan, ia banyak bertemu dengan orang-orang baru, dan hal-hal yang baru. Tibalah ia di sebuah desa yang kumuh, dia temukan seorang pria yang berbaju lusuh serta compang-camping. Pria itu tidak bersih sama sekali. Bahkan ia sedang dengan nikmatnya mencekik leher sebuah botol minuman keras.

“Orang ini lebih buruk daripada aku. Aku telah mengikuti pendidikan pesantren, badanku pun bersih karena aku tahu kebersihan adalah sebagian dari iman. Dan aku tidak mabuk-mabukan sepertinya.” Pikirnya. Sesaat ia akan membawa pria itu, ia sedikit tertegun. Hatinya berbisik, “Tetapi siapa yang tahu kelak diakhir hayatnya, ia adalah pria yang meninggal dengan khusnul khotimah? Bukankah mungkin saja hari esok ia sudah tak mencekik lagi botol minuman keras? Ketika itu terjadi, sungguh dia tidak akan lebih buruk daripada aku.”

Ia melanjutkan perjalanan, ditemukannya seekor anjing yang buruk rupa, beberapa luka yang masih memerah masih menganga di sebagian tubuhnya, ia tinggal dipinggir selokan. Sampah berserakan dimana-mana. “Aku yakin anjing ini adalah makhluk yang paling buruk, lebih buruk daripada aku.” Lalu ia membawanya.

Perjalanan masih bersisa dua hari lagi. Ia kemudian berpikir, “Ketika anjing ini meninggal dunia, ya sudah – meninggal saja. Sungguh ia tak bertanggung jawab apa-apa terhadap apa yang dilakukannya. Sedangkan aku, jika aku meninggal, banyak sekali yang harus aku pertanggung jawabkan. Dihadapan Allah. Lalu apa yang harus aku katakan kelak?”.

Ini adalah hari terakhir, sang murid sudah banyak menemukan makhluk-makhluk yang lebih buruk darinya. Bebungaan yang tak terurus, kering, lalu mati – bahkan terinjak oleh siapa saja yang lewat. Binatang-binatang, juga manusia-manusia yang ia dapati berperilaku buruk. Mencuri, melukai orang lain, serakah, bahkan seorang pembunuh. Ya dia temukan banyak sekali orang-orang yang berperilaku buruk – teramat sangat buruk. Ia lalu mencari yang "paling", sesuai permintaan sang Mursyid.

Hari ke tiga, tibalah saatnya ia harus menghadap kepada sang Mursyid. Sang Mursyid nampaknya sudah menunggu dengan harap-harap cemas akan kedatangan murid terbaiknya itu. “Ia pasti berhasil” – bisiknya. Sang murid mendatanginya dengan wajah sedikit tertunduk, gelisah.

Setelah sedikit tenang, sang Mursyid memulai percakapan dengan seulas senyum, “bagaimana perjalananmu Nak? Menyenangkan?” Sang murid mengangguk lemah.

“Apakah kau sudah mendapatkan jawabannya? Apakah makluk terburuk itu?” Sang Mursyid menatap teduh pada sang murid yang terlihat sedang bersedih. Sang murid mengangkat wajahnya, kini matanya telah lurus memandang sang Mursyid. Ia berkaca-kaca.

“Guru, ternyata makhluk yang paling buruk itu adalah aku.” Ia terlihat meneteskan air bening dari matanya.

Sang guru tersenyum. Kini dia tahu kegelisahan yang menimpa muridnya. Ia menepuk pelan pundak sang murid, “Anakku, sungguh kau telah lulus dari ujian ini. Engkau telah mencapai keparipurnaan didalam dirimu. Berbahagialah.”
***

Sahabat, betapa kita selalu pintar mencari kesalahan dan keburukan orang. Akan tetapi, sejatinya bukan keburukan oranglain yang harus kita waspadai, tetapi keburukan yang ada pada diri sendiri. Ketika kita tidak menyombongkan diri dengan apa yang telah kita dapat, setinggi apapun ilmu yang telah dicapai, tidak lantas membuat kita berhak untuk menilai ‘buruk’ oranglain.

Keburukan diri sendiri adalah ranjau didepan mata yang pasti akan kita injak. Dan benih keburukan itu adalah dengan menyombongkan diri, dan mengganggap orang lain lebih buruk dari kita. Benih ranjau beracun inilah, yang harus kita waspadai. Betapa kita tidak boleh sedikitpun merasakan kesombongan didalam hati, karena Kesombongan adalah Selendang Alloh SWT. Hanya DIA-lah yang berhak memilikinya.

Wallohu a’lam.


“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,...” (QS. Al-Isra’ 17 : 7)

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” [Shahih Muslim No. 131]

“Kemuliaan adalah sarungNya dan kesombongan adalah selendangNya. Barangsiapa menentangKU, maka Aku akan mengadzabnya.” [Shahih muslim No. 4752]





Post Comment
READ MORE - Makhluk paling Buruk

Sabtu, 06 Oktober 2012

Tetaplah (menjadi) Shalihah

Ukhti...

Jika aku seorang ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa malu mendekatimu, apa kau tidak merasa takut terjerat padaku?

Jika aku seorang ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa malu dengan genit menggodamu, apa kau tidak merasa risih pada kegenitanku??

Jika aku seorang ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa segan merayumu, apakah kau terbuai oleh bujuk rayuku???

Jika aku seorang ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tak bisa menjaga izzah ketika berdekatan denganmu, apakah kau tidak bisa menolakku dengan perisai malumu?

Jika aku seorang ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Alloh namun tanpa merasa berdosa berani menyentuhmu, apakah kau tidak takut Alloh murka padamu, masihkah kau percaya pada ucapanku?

Tak curigakah kau padaku?
Tak inginkan kau menjauhiku?

Atau karena kau telah terjebak ke dalam jurang cinta nafsu, sehingga kau tak mampu menolakku meski kau tau semua ucapanku mencintaimu karena Alloh adalah palsu.

Ketahuilah ukhty,,,
Jika aku seorang ikhwan sejati yang mencintaimu karena Alloh... Aku tidak akan berani menyentuhmu, bahkan hatimu sekalipun... Karena aku malu pada Alloh jika bayanganku mengacaukan kekhusuk'an ibadahmu...

Jika aku seorang ikhwan sejati yang mencintaimu karena Alloh, aku tidak akan pernah berani merayumu, menggodamu, bahkan dengan bebas tanpa batas berinteraksi denganmu. Karena engkau belumlah halal bagiku. Aku malu jika harus membuatmu lebih banyak mengingatku daripada mengingat-Nya. Aku malu jika harus menjadi seseorang yang membuat-Nya cemburu padamu karena kau rela melanggar larangan-larangan-Nya karena cintamu padaku.

Jika aku seorang ikhwan sejati yang mencintaimu  karena Alloh, aku tidak akan khawatir tidak dapat memilimu karena tak mengungkapkan cintaku padamu sekarang, meski saat ini aku begitu mengagumimu dan menginginkanmu menjadi bidadariku. Karena aku yakin jika engkau memang di takdirkan untukku, engkau pasti akan menjadi milikku meski aku tak mengikatmu. Bukankah jika Alloh tidak mentakdirkan kita bersama, diikatpun pasti akan terlepas juga akhirnya? Jadi untuk apa aku risau?

Ukhti...
Sadarlah... Jika aku seorang ikhwan yang benar-benar mencintaimu karena Alloh, aku hanya akan berani merayumu, menggodamu, dan menyentuhmu setelah engkau telah halal bagiku.

Untuk semua muslimah... Ukhti, Tetaplah berusaha menjadi shalihah, meski zaman telah berubah... Barakallohu fiik...

***
Tertanda,

***



"Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu." (HR. Ibnu Majah No. 4181)

"Rasululloh SAW bersabda : Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya diangkat maka yang lainpun akan terangkat." (HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hamkim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi).

Ya! Izzah seorang muslim ada pada rasa malunya. Adakah pertanyaan berantai dari saudara seiman itu menyadarkan kita? Adakah kita hanya membacanya selintas, lalu membuangnya jauh-jauh dari benak ini - karena tidak sesuai dengan nafsu di dada?

Lantas pertanyaanya, adalah seberapa banyak muslim / muslimah zaman sekarang yang mengetahui tentang rasa malu, tapi tidak menghiraukannya atau bahkan mengabaikannya demi hawa nafsu? Seberapa banyak muslim / muslimah yang menyatakan dirinya aktivis yang seringkali membahas rasa malu, tapi tak memaknainya dalam kehidupan sehari-hari?

Dimanakah izzah kita sebagai muslim?
Dimanakah rasa malu kita?
Lalu dimanakah letak iman kita?
Adakah jawabnya?

Adakah kita marah karena terusik ego kita karena kebenaran?
ataukah kita merintih bersedih karena kebenaran itu ternyata kita abaikan?

Astaghfirulloh...

Duhai diri, berapa lama lagi
kau terus begini, terus mengkhianati?
Kapankah lagi, engkau kan kembali
berserah diri setulus sepenuh hati?

***


Post Comment
READ MORE - Tetaplah (menjadi) Shalihah

Sabtu, 22 September 2012

Three Nice Stories


1. Pada suatu saat, ketika semua penduduk desa berdo'a memohon hujan. Jika suatu hari semua berkumpul untuk berdo'a, hanya 1 orang yang membawa payung. "Itulah IMAN".

2. Ketika bayi berusia 1 tahun kita lemparkan ke udara, dia tertawa karena dia tau kita akan menangkapnya. "Itulah KEPERCAYAAN".

3. Setiap malam kita tidur, kita tidak yakin bahwa kita masih hidup saat bangun esok hari. Namun kita masih mempunyai rencana untuk hari esok. "Itulah HARAPAN".




... that's faith


...that's belief...




& that's hope...


Share dari seorang sahabat,
semoga bermanfaat...






Post Comment
READ MORE - Three Nice Stories

Selasa, 11 September 2012

(Bukan lagi) Tentang dia

Maukah kukabari tentang satu kalimat yang begitu ringan,
tapi mampu menancap didinding hati ini?

"Aku tak memintamu berhenti berharap,
aku hanya memintamu mengganti harapan itu,
bukan lagi segala tentangnya, dan hanya berputar padanya,
tapi, segala tentangmu, tentang mimpimu, bahagiamu juga masa depan yang kau harapkan..."

***

Rasanya aku sudah terlupa, dengan apa yang pernah kurasakan dua tahun yang lalu itu. Ketika aku memutuskan mengabulkan permintaanmu untuk meninggalkanku. Lama, cukup lama aku berfikir dan menimbang...
If I let you go,,, 
I will never know what my love would be, 

holding you close to me. 
Will I ever see, you smiling back at me? If I let you go... (westlife)
Kala itu aku termasuk para galau-er yang seolah tak bisa hadapi kenyataan, pahit. Itu benar, pahit memang. Tapi bukankah kebanyakan obat yang mujarab itu rasanya pahit? Sampai kapan kita berharap obat yang datang adalah berupa sirup berperisa seperti yang kita harapkan semasa kanak-kanak? Lebih tepatnya, sampai kapan kita akan bersikap seperti kanak-kanak? Tak dewasa.

Kehilangan, tak selamanya tak indah. Hanya ketika kita menganggap milik kita itu begitu berharga - ketimbang diri kita sendiri, itulah kehilangan yang tak indah. Lalu bagaimana bisa kehilangan mewujud menjadi indah? Ketika setiap kehilangan itu, kita berusaha menggali lebih dalam daripadanya, menemukan setiap butiran-butiran baru, yang bisa jadi lebih indah dari butiran-butiran yang telah hilang.
Sampe disini saja yah?
Sudah cukup banyak kamu mencari tau tentang dia,
Sudah terlalu penat benakmu memikirkannya,
Sudah cukup lelah hatimu mengingatinya
Saat kamu membiarkannya pergi,
kamu memberikan senyuman itu,
ketika bayangnya tak lagi nampak dipandanganmu,
kenapa kamu malah bersedih?
Dia, telah melangkah jauh meninggalkanmu,
Lalu, kenapa kau terus berharap dia berbalik ke belakang?
Lepaskanlah ia, karena yang akan terluka bukan orang lain, tapi dirimu sendiri
Lepaskanlah ia, agar hatimu dapat menerima selainnya,
Lepaskanlah ia, Tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih baik
Aku tak memintamu berhenti berharap,
Aku hanya memintamu untuk menggati harapanmu,
Bukan lagi segala tentangnya, dan hanya berputar padanya,
Tapi, segala tentangmu, tentang mimpimu, bahagiamu juga masa depan yang kau harapkan.

Untaian kata indah itu memang bukan tulisanku. Pun bukan tulisan yang sengaja ditujukan padaku. Tapi itu terasa benar sekali. Setelah beberapa dekade hati kulalui, masih saja ada percikan harapan yang belum kugantikan. Tapi keyakinan atas segalanya adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan, itulah yang akan lebih memudahkan menggantikan harapan itu. Mudah saja, cukup kau ganti nama yang terselip dalam setiap do'amu itu, dengan "yang terbaik dari Tuhan untukku".

Pertanyaannya, untuk apa aku menulis ulang kalimat indah itu? Aku telah menyadari, bahwa tak mengganti harapan lama itu : menyakitkan. Aku telah setuju untuk mengganti nama yang tak pernah lupa teruntai dalam do'aku. Maka aku bagikan ianya sebagai bekal para pejuang patah hati, dunia tidak runtuh sebab kita kehilangan sesuatu Teman. Tapi dunia ini berakhir bagi siapa yang tidak memiliki harapan - tentu saja bukan harapan tentang dia - dan dia lagi. Siapa bilang itu tak mudah? Mudah sekali Teman. Tega sekali jika ada orang yang menyimpulkan bahwa aku sama sekali tak mengerti soal kesedihan. 

Duhai, sungguh, aku tahu apa artinya kesedihan, aku pernah mengalaminya. Tapi percuma saja berdiri disini mengenang semuanya, sepanjang hari, sepanjang tahun, tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantu selain waktu. Tetapi, agar waktu berbaik hati, kita juga harus berbaik hati kepadanya - dengan menyibukkan diri. Kau tau, sendiri hanya mengundang rasa sesal. Sepi hanya mengundang lipatan-lipatan kesedihan lainnya (TereLiye).

Kutuliskan kalimat-kalimat hati ini, untuk sesama hati yang pernah dengan tegar melepas dengan senyuman, maka gantikanlah kesedihan itu dengan semangat terbaik untuk memperbaiki diri. Sehingga Tuhan menampakkan kuasanya, memantaskan diri kita untuk bahagia, karena telah mengganti harapan semu, dengan Sang Pemilik harapan abadi.






Post Comment
READ MORE - (Bukan lagi) Tentang dia

Kamis, 23 Agustus 2012

Kau kah Cahaya?

Telah kulewati masa itu,
saat logika bertanya, apakah kata-katamu masih dapat didengar? Terdiam. Hati ini memang sudah tiada lagi yakin atas apa yang ia katakan. Lalu masihkah ia dapat diandalkan, untuk memilih sendiri penghuninya?

Ya, ia telah redup. Bahkan ketika hembusan cinta menyentuhnya, ia tak lagi dapat bersinar, kecewa. Mati rasa? Tidak. Ia hanya merasa, cinta itu pula yang dulu sempat meluluhlantakannya, sehingga ia tak lagi ingin bersinar karenanya - bahkan meredup.

Dalam sujud panjangnya, ia katakan untuk tidak lagi mencinta, dengan cinta yang lama. Yang menyakiti hati, yang mematikan nurani, yang menjauhkan Illahi. Dalam derai air matanya, ia hanya ingin langit tersenyum, menghantarkan keteduhan. Ia harapkan bintang berkilauan, menjanjikan indah tanpa keburukan.

Ia telah menutup setiap pintu, dengan mantap. Ia tak ingin kekecewaan mengetuk pintunya kembali. Ia tak mengharapkan cinta dengan seribu sembilu menyapanya. Pintu itu telah bertanda, tertutup - setidaknya untuk sementara.

Terkesiap! Seseorang telah mengetuk pintu itu. Kemudian menyadarkannya atas kunci yang menggelayut digagangnya. Ia mungkin tak berkesempatan memasukinya. Mengetuknya sekali lagi - tak ada jawaban. Lalu berbalik, melangkah pergi.

Sekejap saja pandangan ini berubah, segalanya menjadi berbayang. Ku tatap langit, buram. Ku tatap sekeliling, hening. Inikah yang kau inginkan? Seketika bening membasahi jendela hati. Apa yang ku lakukan?

Lalu kulihat banyak hati yang menghampirinya, sakit. Mengapa harus ada sakit? Bukankah kunci itu telah kupasang dengan sempurna? Sesekali ia menoleh kearah pintuku, mungkinkah ia berharap pintu itu kelak akan terbuka?

Bercermin, menyelami diri...
Jika dalam sujud panjangmu kau memohon padaNya memberikanmu sebongkah hati, sedang ada yang menghampirimu dengan jalan yang diridhai-Nya, mengapa kau tak membuka hatimu?
Jika dalam setiap bait do'amu, kau mengharap IA yang memilihkannya untukmu, mengapa kau tolak pengetuk hatimu? Bukankah bisa jadi dialah yang Tuhan kirimkan untukmu?
Jika dalam diammu, adalah kekuatan bagimu. Pun telah kau sematkan do'a itu disepertiga malammu, bahkan pada malam yang ganjil yang Alloh janjikan kemuliaan Lailatur Qadar. Lalu ketika Tuhan memberikan jalan untuk mengikrarkannya, mengapa kau begitu pengecut? Membiarkan pergi hati yang tak kau ketahui sama sekali?

Lalu apa yang harus aku lakukan? Membuka pintu yang selama ini kututup rapat, lalu mengejarnya? Meminta kembali? Apakah itu tidak cukup memalukan? Jikapun ia adalah jodohku, bukankah kelak ia akan datang kembali?
Lalu kau letakkan dimana usahamu menjemput jodohmu? Kau berdo'a siang malam tapi tak berniat berusaha? Sesombong itukah dirimu? Bukankah Khadijah telah menjemput jodohnya dan tak berkurang sedikit pun kemuliaan dari dirinya?
Lalu bagaimana jika dia bukan jodohku? Bukankah hanya kesakitan yang akan kuterima? Bagaimana jika dia mengundurkan diri ketika mengetahui detail tentangku? Bahkan aku tidak punya apa-apa untuk dibanggakan? Harta? Keluarga yang utuh?
AGAMA, itu yang harus kau punya melebihi segalanya. DIA telah menimpakan kesakitan yang (jauh) lebih dalam kepadamu, agar kau dapat yakin pada dirimu, bahwa kau mampu menghadapi kesakitan yang biasa-biasa saja. Mengapa kau merasa begitu lemah?
Lalu mengapa kau berburuk sangka bahwa dia yang telah dikirimkan padamu begitu munafiknya memandang harta dan keluargamu? Ketika telah kau tempuh jalan yang DIA sukai, mengapa kau mengharapkan hasil yang kau sukai? Bukankah cukup DIA saja yang Maha Berkehendak, mengapa kau begitu ragu atas kebaikan yang kelak IA Kehendaki?

Astaghfirullohaladziim...

Ya Rabb, Dzat yang jiwaku ada dalam genggamanMU, aku mohonkan petunjuk atas ketidak-berdayaan ini, tidak dapat kuputuskan apa yang harus kuperbuat. Engkau Maha Tahu apa yang kuperbuat ini bukanlah untuk mengkufuri nikmatMu, semata untuk menjaga hatiku. Hanya saja, diri ini hanyalah manusia yang tiada mungkin bisa bersih dari kesalahan. Mungkin diri ini telah salah menyikapi apa yang seharusnya terjadi.

Rabb,
Jika ia adalah jawabanMu atas semua do'aku
Jika ia adalah pengabulanMu atas semua harapanku
Jika ia adalah kirimanMu atas kekosonganku
Jika ia adalah kebaikanMu atas segala keburukan yang menimpaku

Sungguh,
Engkau Maha Kuasa untuk tak membuatnya berpaling
dan sungguh,
Engkau Maha Berkehendak untuk membuatnya kembali pada pintu ini
dan sungguh,
Engkau Maha Tahu apa yang terbaik untuk dirinya, pun untuk diriku
dan sungguh,
Engkau Maha Mengabulkan do'a-do'a yang tulus dipanjatkan

Rabb,
bukankah janjiMu adalah pasti?
bukankah hanya ketetapanMu yang terjadi?
bukankah rencanaMu yang Maha Teliti?

Berikanlah jalan,
untuk mengetuk pintu hatinya
jika Kau Tetapkan ia untukku

Berikanlah keteguhan hati,
untuk menapak langkah kaki
menyusuri kemana ia pergi

Berikanlah kemantapan,
untuk tak lagi ragu
dihatiku, pun di hatinya

Berilah penerangan atas hikmah
yang Kau sembunyikan dibalik peristiwa
Jika dia tak Kau takdirkan untukku
biarkan hati ini tenang karena telah menempuh
jalan yang Kau ridhai

Allohumma aamiiin... 

Kutuliskan untuk hati yang kelak menemaniku,
diantara jalan gelap berliku,
kutemukan kau : Cahaya Hati




Post Comment
READ MORE - Kau kah Cahaya?