WELCOME to MY BLOG

Bagi akhi & ukhti yang ingin meng-copy catatan ato artikel di blog ini, mohon cantumkan sumber setiap catatan di tersenyumlah-hati.blogspot.com demi menjaga keaslian tulisan / karya ato share dilaman networking via share tool dibawah setiap catatan...

Mari berbagi...


- Tersenyumlah -

Selasa, 11 September 2012

(Bukan lagi) Tentang dia

Maukah kukabari tentang satu kalimat yang begitu ringan,
tapi mampu menancap didinding hati ini?

"Aku tak memintamu berhenti berharap,
aku hanya memintamu mengganti harapan itu,
bukan lagi segala tentangnya, dan hanya berputar padanya,
tapi, segala tentangmu, tentang mimpimu, bahagiamu juga masa depan yang kau harapkan..."

***

Rasanya aku sudah terlupa, dengan apa yang pernah kurasakan dua tahun yang lalu itu. Ketika aku memutuskan mengabulkan permintaanmu untuk meninggalkanku. Lama, cukup lama aku berfikir dan menimbang...
If I let you go,,, 
I will never know what my love would be, 

holding you close to me. 
Will I ever see, you smiling back at me? If I let you go... (westlife)
Kala itu aku termasuk para galau-er yang seolah tak bisa hadapi kenyataan, pahit. Itu benar, pahit memang. Tapi bukankah kebanyakan obat yang mujarab itu rasanya pahit? Sampai kapan kita berharap obat yang datang adalah berupa sirup berperisa seperti yang kita harapkan semasa kanak-kanak? Lebih tepatnya, sampai kapan kita akan bersikap seperti kanak-kanak? Tak dewasa.

Kehilangan, tak selamanya tak indah. Hanya ketika kita menganggap milik kita itu begitu berharga - ketimbang diri kita sendiri, itulah kehilangan yang tak indah. Lalu bagaimana bisa kehilangan mewujud menjadi indah? Ketika setiap kehilangan itu, kita berusaha menggali lebih dalam daripadanya, menemukan setiap butiran-butiran baru, yang bisa jadi lebih indah dari butiran-butiran yang telah hilang.
Sampe disini saja yah?
Sudah cukup banyak kamu mencari tau tentang dia,
Sudah terlalu penat benakmu memikirkannya,
Sudah cukup lelah hatimu mengingatinya
Saat kamu membiarkannya pergi,
kamu memberikan senyuman itu,
ketika bayangnya tak lagi nampak dipandanganmu,
kenapa kamu malah bersedih?
Dia, telah melangkah jauh meninggalkanmu,
Lalu, kenapa kau terus berharap dia berbalik ke belakang?
Lepaskanlah ia, karena yang akan terluka bukan orang lain, tapi dirimu sendiri
Lepaskanlah ia, agar hatimu dapat menerima selainnya,
Lepaskanlah ia, Tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih baik
Aku tak memintamu berhenti berharap,
Aku hanya memintamu untuk menggati harapanmu,
Bukan lagi segala tentangnya, dan hanya berputar padanya,
Tapi, segala tentangmu, tentang mimpimu, bahagiamu juga masa depan yang kau harapkan.

Untaian kata indah itu memang bukan tulisanku. Pun bukan tulisan yang sengaja ditujukan padaku. Tapi itu terasa benar sekali. Setelah beberapa dekade hati kulalui, masih saja ada percikan harapan yang belum kugantikan. Tapi keyakinan atas segalanya adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan, itulah yang akan lebih memudahkan menggantikan harapan itu. Mudah saja, cukup kau ganti nama yang terselip dalam setiap do'amu itu, dengan "yang terbaik dari Tuhan untukku".

Pertanyaannya, untuk apa aku menulis ulang kalimat indah itu? Aku telah menyadari, bahwa tak mengganti harapan lama itu : menyakitkan. Aku telah setuju untuk mengganti nama yang tak pernah lupa teruntai dalam do'aku. Maka aku bagikan ianya sebagai bekal para pejuang patah hati, dunia tidak runtuh sebab kita kehilangan sesuatu Teman. Tapi dunia ini berakhir bagi siapa yang tidak memiliki harapan - tentu saja bukan harapan tentang dia - dan dia lagi. Siapa bilang itu tak mudah? Mudah sekali Teman. Tega sekali jika ada orang yang menyimpulkan bahwa aku sama sekali tak mengerti soal kesedihan. 

Duhai, sungguh, aku tahu apa artinya kesedihan, aku pernah mengalaminya. Tapi percuma saja berdiri disini mengenang semuanya, sepanjang hari, sepanjang tahun, tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantu selain waktu. Tetapi, agar waktu berbaik hati, kita juga harus berbaik hati kepadanya - dengan menyibukkan diri. Kau tau, sendiri hanya mengundang rasa sesal. Sepi hanya mengundang lipatan-lipatan kesedihan lainnya (TereLiye).

Kutuliskan kalimat-kalimat hati ini, untuk sesama hati yang pernah dengan tegar melepas dengan senyuman, maka gantikanlah kesedihan itu dengan semangat terbaik untuk memperbaiki diri. Sehingga Tuhan menampakkan kuasanya, memantaskan diri kita untuk bahagia, karena telah mengganti harapan semu, dengan Sang Pemilik harapan abadi.






Post Comment
READ MORE - (Bukan lagi) Tentang dia

Kamis, 23 Agustus 2012

Kau kah Cahaya?

Telah kulewati masa itu,
saat logika bertanya, apakah kata-katamu masih dapat didengar? Terdiam. Hati ini memang sudah tiada lagi yakin atas apa yang ia katakan. Lalu masihkah ia dapat diandalkan, untuk memilih sendiri penghuninya?

Ya, ia telah redup. Bahkan ketika hembusan cinta menyentuhnya, ia tak lagi dapat bersinar, kecewa. Mati rasa? Tidak. Ia hanya merasa, cinta itu pula yang dulu sempat meluluhlantakannya, sehingga ia tak lagi ingin bersinar karenanya - bahkan meredup.

Dalam sujud panjangnya, ia katakan untuk tidak lagi mencinta, dengan cinta yang lama. Yang menyakiti hati, yang mematikan nurani, yang menjauhkan Illahi. Dalam derai air matanya, ia hanya ingin langit tersenyum, menghantarkan keteduhan. Ia harapkan bintang berkilauan, menjanjikan indah tanpa keburukan.

Ia telah menutup setiap pintu, dengan mantap. Ia tak ingin kekecewaan mengetuk pintunya kembali. Ia tak mengharapkan cinta dengan seribu sembilu menyapanya. Pintu itu telah bertanda, tertutup - setidaknya untuk sementara.

Terkesiap! Seseorang telah mengetuk pintu itu. Kemudian menyadarkannya atas kunci yang menggelayut digagangnya. Ia mungkin tak berkesempatan memasukinya. Mengetuknya sekali lagi - tak ada jawaban. Lalu berbalik, melangkah pergi.

Sekejap saja pandangan ini berubah, segalanya menjadi berbayang. Ku tatap langit, buram. Ku tatap sekeliling, hening. Inikah yang kau inginkan? Seketika bening membasahi jendela hati. Apa yang ku lakukan?

Lalu kulihat banyak hati yang menghampirinya, sakit. Mengapa harus ada sakit? Bukankah kunci itu telah kupasang dengan sempurna? Sesekali ia menoleh kearah pintuku, mungkinkah ia berharap pintu itu kelak akan terbuka?

Bercermin, menyelami diri...
Jika dalam sujud panjangmu kau memohon padaNya memberikanmu sebongkah hati, sedang ada yang menghampirimu dengan jalan yang diridhai-Nya, mengapa kau tak membuka hatimu?
Jika dalam setiap bait do'amu, kau mengharap IA yang memilihkannya untukmu, mengapa kau tolak pengetuk hatimu? Bukankah bisa jadi dialah yang Tuhan kirimkan untukmu?
Jika dalam diammu, adalah kekuatan bagimu. Pun telah kau sematkan do'a itu disepertiga malammu, bahkan pada malam yang ganjil yang Alloh janjikan kemuliaan Lailatur Qadar. Lalu ketika Tuhan memberikan jalan untuk mengikrarkannya, mengapa kau begitu pengecut? Membiarkan pergi hati yang tak kau ketahui sama sekali?

Lalu apa yang harus aku lakukan? Membuka pintu yang selama ini kututup rapat, lalu mengejarnya? Meminta kembali? Apakah itu tidak cukup memalukan? Jikapun ia adalah jodohku, bukankah kelak ia akan datang kembali?
Lalu kau letakkan dimana usahamu menjemput jodohmu? Kau berdo'a siang malam tapi tak berniat berusaha? Sesombong itukah dirimu? Bukankah Khadijah telah menjemput jodohnya dan tak berkurang sedikit pun kemuliaan dari dirinya?
Lalu bagaimana jika dia bukan jodohku? Bukankah hanya kesakitan yang akan kuterima? Bagaimana jika dia mengundurkan diri ketika mengetahui detail tentangku? Bahkan aku tidak punya apa-apa untuk dibanggakan? Harta? Keluarga yang utuh?
AGAMA, itu yang harus kau punya melebihi segalanya. DIA telah menimpakan kesakitan yang (jauh) lebih dalam kepadamu, agar kau dapat yakin pada dirimu, bahwa kau mampu menghadapi kesakitan yang biasa-biasa saja. Mengapa kau merasa begitu lemah?
Lalu mengapa kau berburuk sangka bahwa dia yang telah dikirimkan padamu begitu munafiknya memandang harta dan keluargamu? Ketika telah kau tempuh jalan yang DIA sukai, mengapa kau mengharapkan hasil yang kau sukai? Bukankah cukup DIA saja yang Maha Berkehendak, mengapa kau begitu ragu atas kebaikan yang kelak IA Kehendaki?

Astaghfirullohaladziim...

Ya Rabb, Dzat yang jiwaku ada dalam genggamanMU, aku mohonkan petunjuk atas ketidak-berdayaan ini, tidak dapat kuputuskan apa yang harus kuperbuat. Engkau Maha Tahu apa yang kuperbuat ini bukanlah untuk mengkufuri nikmatMu, semata untuk menjaga hatiku. Hanya saja, diri ini hanyalah manusia yang tiada mungkin bisa bersih dari kesalahan. Mungkin diri ini telah salah menyikapi apa yang seharusnya terjadi.

Rabb,
Jika ia adalah jawabanMu atas semua do'aku
Jika ia adalah pengabulanMu atas semua harapanku
Jika ia adalah kirimanMu atas kekosonganku
Jika ia adalah kebaikanMu atas segala keburukan yang menimpaku

Sungguh,
Engkau Maha Kuasa untuk tak membuatnya berpaling
dan sungguh,
Engkau Maha Berkehendak untuk membuatnya kembali pada pintu ini
dan sungguh,
Engkau Maha Tahu apa yang terbaik untuk dirinya, pun untuk diriku
dan sungguh,
Engkau Maha Mengabulkan do'a-do'a yang tulus dipanjatkan

Rabb,
bukankah janjiMu adalah pasti?
bukankah hanya ketetapanMu yang terjadi?
bukankah rencanaMu yang Maha Teliti?

Berikanlah jalan,
untuk mengetuk pintu hatinya
jika Kau Tetapkan ia untukku

Berikanlah keteguhan hati,
untuk menapak langkah kaki
menyusuri kemana ia pergi

Berikanlah kemantapan,
untuk tak lagi ragu
dihatiku, pun di hatinya

Berilah penerangan atas hikmah
yang Kau sembunyikan dibalik peristiwa
Jika dia tak Kau takdirkan untukku
biarkan hati ini tenang karena telah menempuh
jalan yang Kau ridhai

Allohumma aamiiin... 

Kutuliskan untuk hati yang kelak menemaniku,
diantara jalan gelap berliku,
kutemukan kau : Cahaya Hati




Post Comment
READ MORE - Kau kah Cahaya?

Senin, 09 Juli 2012

Berhentilah menjadi Gelas!

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak?
Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini?
Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum.
Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.


Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.

"Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu' (hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."




Post Comment
READ MORE - Berhentilah menjadi Gelas!

Hatiku

Surat untuk Hatiku,,,

Untuk hatiku yang masih menanti, menantilah dengan cinta.
Cinta yang akan membuatmu menerima apapun kehendak_Nya.
Kelak kau akan sadari, cintamu karena-Nya
akan membuat penantian itu tak pernah sia-sia

Untuk hatiku yang masih menunggu,menunggulah dengan senyum.
Senyuman ridho pada siapapun yang selalu menanyakannya.
Katakan pada mereka, hatiku tak akan pernah kesepian
dalam setiap belaian ketetapan_Nya

Untuk hatiku yang masih mencari
carilah dengan ikhtiar yang suci
Ikhtiar tanpa nafsu dan paksaan waktu ikhtiar dengan harapan
dan ketundukan melangkah dalam koridor di jalan_Nya

Untuk hatiku yang masih merindu,
rinduilah Allah Azza Wa Jalla yang paling layak untuk dirindu.
Kelak kau akan tahu, merindukan_Nya
adalah penantian dan pencarian yang terindah

Untuk hatiku, sesungguhnya kau dan aku berada dalam genggaman_Nya
maka tak ada yang perlu dikhawatirkan selama kita bersandar kepada_Nya
Allah Azza Wa Jalla mencintai kita,
kau juga tak pernah meragukannya kan?

Hari ini kutulis surat untuk hatiku,
Berharap hati ini hanya menanti, menunggu
mencari dan merindu karena_Nya...


Aamiin ya Rabbal'Alamin.





Post Comment
READ MORE - Hatiku

Selasa, 03 Juli 2012

Sesal untukmu


Jika kamu kecewa karena pernah mencintai seseorang karena Alloh;
Apakah kamu juga akan kecewa
karena telah menambah pembendaharaan harapan kepadaNya
dalam doa pada rakaat-rakaat panjang di pada sholat-sholat malammu?


Apakah kamu juga akan kecewa
karena telah meningkatkan kebaikan akhlakmu
sebagai tawasulmu untuk merayuNya
memberikan apa yang kamu minta?


Apa yang perlu disesali...?
Jika semua yang telah dilakukan itu,
justru membuatmu mendapat banyak hikmah?
Tidakkah kamu curiga
bisa jadi Alloh menghadirkan suatu keadaan itu kepadamu

agar kamu lebih dekat kepadaNya, kemudian kamu menjadi lebih baik,
kemudian memantaskanmu untuk mendapatkan
sesuatu yang jauh lebih baik.


Insya Alloh... ^_^

Degg...
Tulisan seorang sahabat telah amat (sangat) mengena dihati...




Kutanya pada hati,
apakah aku menyesal
telah jatuh cinta?
padahal jatuh cinta adalah fitrah

Kutanya pada diri,
apakah karena salahku
jika kini ku kecewa?
padahal diri ini telah lama terbentengi dari harap

Kutanya pada logika,
apakah benar adanya
jika kunilai jodoh dariNYA hanya sebatas logika
padahal ketetapan hatilah jawabannya

Kutanya pada senyum,
dengan apa kau artikan bahagia
sedang dalam hati kau merintih
kehilangan yang terkasih

Kutanya pada air mata,
untuk apa ianya mengalir
karena yang dicinta telah pergi
ataukah menyadari kasih sayang yang jauh lebih tinggi?

Hatiku berkata,
ini bukan rasa sesal, sungguh
Jatuh cinta adalah fitrah
hanya saja kau telah menyikapinya dengan salah
Diri ini mejawab,
bukan karena salahmu duhai diri
Kecewa muncul dari harapan
yang telah kau gantungkan bukan pada yang seharusnya
Logikaku akhirnya menyimpulkan,
jika yang kuingin adalah Jodoh dariNYA
yang terbaiklah yang seharusnya kupinta
bukan dia penyebab luka
Lalu senyum berkata,
tugaskulah menjadikanmu kuat
mengganti tangismu dengan satu nama mulia
sehingga IA akan selalu bersamamu, sabar
Air mata pun menjawab,
aku mengalir untuk membasahi
tanah-tanah tandus yang telah kau pupuki
hingga kau mengerti, Tuhanmu Maha Menyayangi

Menangislah,
kadang manusia terlalu sombong tuk menangis
lalu untuk apa air mata tlah dicipta?
Bukan hanya bahagia yang ada didunia

Tersenyumlah,
haraplah Kasih Sayang Sang Illahi
lalu segala tangis kan terhapus
segala luka kan terobati

Yang indah, hanya tuk dikenang
Yang menyakiti, biarkan pergi
Bukan 'tuk menghenti sayang
pun 'tuk belajar membenci

Hanya saja, ini saatnya untuk berhenti
dari segala prasangka buruk tentangNYA
Untuk tak terjebak yang orang sebut "galau"
tetapi wujud kasih sayangNYA kepada seorang hamba

Menolong hambaNYA
dari kubangan cinta tak bertepi
dari lumpur hisap bernama rindu
dari harapan yang tiada penjamin

Lalu aku bertanya pada penyesalan,
Untuk apa kau ada?
Dia hanya terdiam

Tuhan,
telah kupasrahkan
tuk melepas semua penyesalan dihati
ku harap ia pergi, tak kembali







Post Comment
READ MORE - Sesal untukmu