WELCOME to MY BLOG

Bagi akhi & ukhti yang ingin meng-copy catatan ato artikel di blog ini, mohon cantumkan sumber setiap catatan di tersenyumlah-hati.blogspot.com demi menjaga keaslian tulisan / karya ato share dilaman networking via share tool dibawah setiap catatan...

Mari berbagi...


- Tersenyumlah -

Selasa, 20 November 2012

Percayakah kau padaku? (part I)


Buat apa cinta jika kau tidak percaya padaku,
buat apa sayang jika kau terus berprasangka yang bukan-bukan.
***

Cindanita, maafkan Ayahmu, semua ini harus berakhir menyakitkan. Menatap pusaramu, Nak, meskipun kejadian itu sudah lima belas tahun lalu tertinggal, rasa-rasanya baru kemarin terjadi. Hari ini, kau seharusnya sudah seperti gadis remaja kebanyakan, pasti cantik dengan rambut panjang hitam legam, mata hitam bundar, pipi memerah berlesung, dan hidungmu, persis seperti ibumu, mancung seperti hadiah terbaik Tuhan untuk anak yang manis dan penurut.

Maafkan Ayahmu, Nak, semua janji masa depan itu tidak terwujud, hancur berkeping-keping dibawa kepergian Ibumu. Maafkan Ayahmu, Cindanita. Seusiamu sekarang, enam belas, kau pasti belum paham, bahwa pondasi terbesar perasaan cinta, selain komitmen adalah kepercayaan. Tanpa sebuah kepercayaan yang utuh, maka dia hanya ibarat malam tanpa lampu, kau tersuruk tanpa arah. Ibarat kapal tanpa kompas, kau tersesat semakin dalam di lautan perasaan. Atau jangan-jangan kau sudah paham, Nak?

Aku menyeka ujung mata, mendongak. Kabut mengambang di pekuburan kota, membuat pohon kamboja terlihat seperti bayang-bayang syahdu, berpadu dengan pusara-pusara tinggi. Matahari hampir tenggelam di kaki langit, menyisakan semburat merah, suasana ini sama benar dengan waktu kau dikebumikan, Cindanita. Juga sama benar saat Ibumu pergi.

Lihatlah, Ayah pulang, Nak, menjengukmu sesuai janji setelah setahun lagi berlalu. Aku tersenyum, mengusap lembut pusara berlumut di hadapanku. Sebenarnya, tidak pernah mudah mengunjungi kembali kota ini, bukan karena jaraknya amat jauh dengan tempatku menetap sekarang, Nak, tapi dengan kembali itu sama saja seperti melihat seluruh kenangan itu diputar di pelupuk mata, tanpa kurang satu adegan manapun.

Walaupun hanya mampir sebentar, hanya sesore, sekelebat berjalan di jalanan kota yang tidak ada lagi warga yang masih mengingat Ayahmu, semua kenangan itu masih terpahat jelas. Aku seperti masih bisa mendengar tangismu, ingin menyusu pada Ibumu. Aku seperti masih bisa melihat tubuhmu yang membiru. Maafkan Ayahmu, Nak, Ayah sudah berjanji tidak akan pernah menangis, tapi untuk kesekian kalinya menangis di depan pusaramu.

Aku bukan menangis sedih, Cindanita. Enam belas tahun berlalu, aku sudah bisa menangis lega. Ayah baik-baik saja, terima kasih sudah bertanya.

Baik, kita bicarakan hal lain saja. tidak akan kita habiskan waktu seberharga ini hanya untuk mengenang semua yang sudah tertinggal di belakang, bukan? Kau mau mendengar sebuah cerita, Nak? Seperti tahun lalu, Ayah membawa sebuah cerita baru. Kapal Ayah singgah di daratan India, dan beberapa penduduk setempat berbaik hati menceritakan sebuah cerita hebat. Maukah kau mendengarnya?

Aku tersenyum lembut, mengelus perlahan legam panjang milik Cindanita, gadis kesayanganku.

***

Siapa yang tidak mengenal Rama?

Pangeran gagah dari kerajaan Kosala? Dia tampan tak terkira, dia pintar tiada dua, dan jangan tanya soal kepribadiannya, Rama adalah pemuda tiada tandingan. Semua orang akan terpesona hanya dengan menatap wajahnya.

Lantas siapa yang tidak mengenal Shinta? Gadis rupawan, puteri kerajaan Wideha? Dia cantik tak terperi, dia pintar tiada tanding, dan jangan tanya soal budi pekertinya, Shinta adalah gadis yang tumbuh dalam asuhan luhur. Semua orang bahkan terpesona hanya dengan mendengar bisik-bisik bagaimana jelita rupanya.

Mereka berdua seperti ditakdirkan menjadi pasangan abadi, Rama-Shinta, dan sudah abadilah cerita mereka.

Kau tahu, Nak, bagaimana mereka berdua berjodoh satu sama lain? Tidak, tentu saja tidak seperti pasangan kebanyakan. Ah, kalau sama dengan orang banyak, apa istimewanya? Pemuda gagah itu, Rama, sedang dalam misi berbahaya, menumpas para raksasa di hutan rimba saat terbetik kabar, Raja Wideha mengadakan sayembara. Gadisnya yang rupawan sudah cukup usia, bagai bunga mekar, sudah saatnya menikah dengan salah-satu pangeran terbaik di seluruh India. Maka demi kabar besar itu, berduyun-duyunlah semua kerajaan mengirimkan pangeran mereka.

“Kau harus ikut serta, Kakanda.” Laksmana, adik Rama yang setia menemani mereka berpetualang menumpas raksasa membujuk.

“Astaga, kau ingin kakakmu ini mendapatkan jodoh melalui sebuah sayembara? Itu jelas bukan awal kisah cinta sejati, tidak akan ada Resi yang pernah menulisnya.” Rama menggeleng.

“Setidaknya Kakanda bersedia melihat dulu puteri itu, menurut kabar, wangi kulitnya semerbak hingga ratusan meter. Matanya mampu meruntuhkan dinding kesombongan. Dan hatinya, bahkan bisa menaklukkan senjata paling hebat di dunia.” Laksmana mengedipkan mata, tidak habis akal membujuk, “Setelah dilihat, nanti baru Kakanda putuskan sendiri apakah akan menulis kisah cinta sejati dari sebuah sayembara atau bukan?”

Rama menatap adiknya, tidak percaya, bagaimana mungkin di tengah mengejar-ngejar raksasa pengganggu penduduk, mereka membicarakan soal sayembara bodoh itu.
“Ayolah, apa salahnya dicoba, bukan?” Laksmana tertawa.

Baiklah, seperti apa omong kosong kecantikan gadis itu, Rama mendengus, memasang busur dan anak panah di punggung, lupakan sebentar misi petualangan mereka, berputar haluan, berangkat menuju ibukota Wideha.

Cindanita anakku, jika kau hendak bertanya apakah cinta pada pandangan pertama itu, maka kau bisa bertanya pada pasangan Rama dan Shinta.

Ketika seluruh pangeran sudah berkumpul di balai agung ibukota Wideha, Rama yang tiba terlambat justeru salah memasuki ruangan. Sebuah kesalahan yang memantik nyala perasaan berpijar-pijar. Bagaimana mungkin? Dia sungguh tidak terpesona oleh betapa cantiknya Shinta, kabar itu bukan dusta, tapi dia terpesona saat melihat gadis itu sedang membantu dayang-dayang yang tidak sengaja menumpahkan nampan berisi buah-buahan.

“Tidak usah dipikirkan. Tidak usah dicemaskan.” Merdu suara gadis itu menenangkan dayang-dayang, membungkuk membantu mengambil buah yang berserakan, sama sekali tidak keberatan membuat kainnya berdebu.

“Maafkan kami, Puteri.” Dayang-dayang semakin serba salah, bagaimana mungkin Shinta yang hari ini akan mengadakan sayembara mencari suami, justeru berhenti sejenak membantu mereka.

Rama yang tertegun menatap gadis yang riang membantu dayang-dayangnya, mencengkeram lengan Laksmana di sampingnya tanpa sengaja.
“Siapakah gadis itu?” Rama berbisik.

Shinta lebih dulu menoleh. Dayang-dayang berseru pelan, kaget ada laki-laki memasuki bangunan khusus perempuan.

“Maaf, sungguh maafkan kami.” Rama mengangkat tangannya, bergegas menyadari kekeliruan, “Kami sedikitpun tidak bermaksud buruk, kami tidak sengaja, kami salah masuk ruangan.”

Shinta menatap sejenak wajah pemuda di hadapannya, memeriksa wajah serba salah, serba tanggung, dan ketahuan baru saja begitu terpesona melihat dirinya, ah, pemuda ini pastilah pengembara, Shinta tersenyum manis, pemuda gagah ini pastilah salah-satu petualang yang telah mengelilingi dunia. Seperti banyak pengunjung lainnya, ikut hadir meramaikan ibukota menonton sayembara besar.

Ah, andaikata dia bukan puteri seorang Raja, yang harus memperoleh jodoh melalui sebuah sayembara, akan menyenangkan bisa berpetualang melihat dunia luas.

Itulah pertemuan pertama mereka. Percakapan pendek yang kaku, patah-patah, malu-malu tapi mengesankan. Shinta tidak menduga kalau pemuda dengan pakaian ksatria biasa tapi dengan tutur kata menawan bagai seorang pangeran memang seorang pangeran terhormat. Sungguh sebuah kejutan menarik saat dia tahu pemuda itu mengikuti sayembara.

Kau tahu Cindanita, sayembara itu mudah sekaligus rumit. Mudah, karena semua peserta tidak diminta berlomba memanah, mengejar atau membunuh rakasasa, mereka juga tidak diminta saling mengalahkan, tidak ada pertandingan fisik. Mereka hanya diminta menarik busur, pusaka kerajaan Wideha. Nah itulah rumitnya. Busur itu sungguh bukan busur biasa, itu busur milik Dewa Siwa yang dihadiahkan ke bumi, jangankan menarik talinya, bahkan mengangkat busur itu saja tidak banyak yang mampu.

Kau benar, Nak, aku tertawa, mengelus rambut hitam Cindanitaku yang tidak sabaran menunggu kelanjutan cerita, tentu saja Rama yang memenangkan sayembara itu.

Tapi jangan lupakan pertanyaan pentingnya, jika seluruh pangeran tidak mampu menarik tali busur itu, kenapa Rama yang mampu? Ayah tidak tahu kekuatan apa yang sesungguhnya membuat pemuda itu mampu menarik tali busur itu, Rama adalah ksatria hebat, dia dikenal mampu menaklukkan banyak raksasa di jaman itu, tapi itu tetaplah busur hadiah Dewa Siwa, senjata paling menggetarkan di seluruh daratan India.

Satu anak panahnya terhujam ke bumi, maka konon dunia akan merekah bagai sebutir jeruk yang terbelah. Entah kekuatan apa, boleh jadi karena kekuatan cinta. Lihatlah, di sebelah kursi singgasana, Shinta tersipu malu, ikut bersorak senang saat melihat Rama berhasil menarik tali busur. Mereka berjodoh, sayembara telah berakhir, pernikahan antara Rama dan Shinta segera dilangsungkan.

Lepas pernikahan, pasangan muda itu kembali ke Ayodya, ibukota kerajaan Kosala, bukan main, senang alang kepalang Raja Kosala melihat anaknya telah memperistri seorang bidadari. Raja Kosala yang uzur, bahkan hendak mengangkat Rama menjadi raja, apalagi yang kurang? Masa depan kerajaan akan gemilang di tangan putra sulungnya tersebut.

Tetapi ada yang tidak senang dengan rencana tersebut. Ibu tiri Rama, istri muda Raja Kosala, merasa anaknya, Barata, lebih berhak menjadi raja. Nasib malang menimpa pasangan muda tersebut, melalui sebuah intrik yang licik, Rama dan Shinta justeru terusir dari Ayodya, ibukota Kosala, dibuang ke hutan rimba selama empat belas tahun. Barata, adik tirinya menjadi raja, dan Raja Kosala yang menyesali situasi meninggal dalam kesedihan panjang.

Pic. Lukisan Shinta menemani Rama di Hutan
Apa yang dilakukan Shinta atas semua penderitaan itu, Cindanita? Dia tidak pergi, dia justeru menabahkan hati, meneguhkan cinta, berangkat menemani Rama terbuang dari segala kehormatannya. Bagi Shinta, semua urusan sederhana, kemanapun Rama pergi, dia akan terus mengabdi, itulah bukti cintanya yang tiada tara. Maka terusirlah Rama dan Shinta, dengan ditemani Laksmana yang sejak kecil selalu menemani kakaknya.

Empat belas tahun bukan waktu yang sebentar, tinggal di dalam hutan juga bukan masalah yang mudah bagi pasangan itu. Mereka diuji oleh berbagai godaan, diuji oleh berbagai rintangan. Tidak terhitung begitu banyak raksasa hutan yang selama ini diburu Rama hendak membalaskan sakit hati. Dan puncaknya saat Rahwana, Raja Alengka, berniat menculik Shinta yang jelita.

Kau tahu siapa Rahwana, Nak? Dia adalah raja para raksasa. Kesaktiannya tiada tara. Tidak ada penduduk bumi yang bisa mengalahkan Rahwana. Bahkan rasa raksasa itu pernah meneror kerajaan langit, membuat para Dewa harus bersatu memaksanya mundur kembali ke bumi. Tidak ada yang bisa menghentikan kesewang-wenangan Rahwana.

Hari naas itu, Shinta melihat seekor anak kijang, begitu lucu, lincah loncat kesana kemari. Aduh, menggemaskan sekali. Shinta meminta Rama mengejar anak kijang itu. Rama yang enggan, akhirnya mengalah, memutuskan mengejar kijang itu, meninggalkan Shinta pada Laksmana, adiknya. Tentu saja kijang itu bukan kijang biasa, melainkan raksasa, anak buah Rahwana yang sedang menyamar. Setelah dikejar kesana-kemari, masuk ke dalam hutan yang lebih lebat, Rama berhasil memanahnya, dan kijang itu berubah wujud, berseru meminta tolong, menirukan suara Rama.

Lukisan : Rama mengejar Kijang

Demi mendengar teriakan itu, Shinta panik. Dia cemas suaminya terluka, meminta Laksmana menyusul. Situasi berubah menjadi rumit. Laksmana yang ragu-ragu, khawatir itu semua jebakan dari musuh mereka, memutuskan membuat lingkaran di tanah yang melindungi Shinta sepanjang berada di dalamnya, dia bergegas menyusul Rama, meninggalkan Shinta yang berlindung dalam lingkaran.

Tetapi Rahwana tidak kalah akal, dia menyamar menjadi seorang pertapa tua, berjalan terbungkuk, pura-pura kehausan. Rahwana tidak bisa masuk ke dalam lingkaran, tapi dia bisa membujuk Shinta yang amat perasa terhadap kesedihan dan penderitaan orang lain melangkah keluar mengulurkan kendi air minum.

Sekejap. Saat tangan Shinta keluar dari lingkaran, Rahwana berubah wujud, menyambar tangan Shinta, membawanya terbang pergi ke kerajaan Alengka yang berada di seberang lautan daratan India. Rahwana tertawa jumawa, wajah buruk rupanya terbahak puas, rencana besarnya berhasil, lihatlah, dia berhasil menculik Shinta.

Rama dan Laksmana yang kembali dari mengejar kijang amat pilu saat tahu istrinya telah diculik Rahwana. Perhiasan istrinya terjatuh di lingkaran perlindungan, dan seekor burung garuda, Jatayu, yang kebetulan melihat penculikan tersebut, dan berusaha menggagalkan, memberitahu mereka, tubuh Jatayu terluka parah, Rahwana jelas-jelas bukan tandingannya.

Maka dimulailah cerita mahsyur itu, Cindanita.

Petualangan Rama menyelamatkan kekasih hatinya, istri tercinta. Rama tahu persis, tidak mudah merebut kembali Shinta dari Rahwana, kerajaan raksasa itu ribuan kilometer di seberang lautan, dan di sarang raksasa, sama saja bunuh diri dengan menyerbu seadanya. Rama memutuskan meminta bantuan bangsa Wanara, alias manusia kera. Melalui sebuah perjanjian saling membantu, ribuan pasukan manusia kera dipimpin oleh panglimanya yang mahsyur itu, Hanoman, berangkat ke medan perang. Juga ribuan ksatria dari kerajaan-kerajaan lain yang terketuk hatinya melawan Rahwana.

Tapi masalah pertama langsung menghadang rombongan itu, bagaimana menyeberangi lautan? Tidak semua anggota pasukan manusia kera bisa terbang? Bagaimana mereka bisa melewati lautan ribuan kilometer, sementara entah apa nasib Shinta di kerajaan Alengka sekarang. Berhari-hari Rama meminta bantuan Baruna, dewa yang mengurus samudera. Baruna menolaknya, menolak terlibat dalam pertempuran.

Rama habis kesabaran, di penghujung hari ketiga, Rama mengangkat busur Dewa Siwa, berdiri penuh rasa marah, menghadap lautan yang menghambat mereka. Anak panah ditarik, dan Rama berseru lantang, “Jika kau tidak mau membantuku, wahai Baruna, akan aku keringkan seluruh lautan ini dengan anak panahku.”

Lukisan Karya Raja Ravi Varma : Rama vs Baruna

Menggetarkan sekali melihat ancaman Rama. Itu bukan senjata biasa, itu pusaka paling sakti milik dunia. Baruna gemetar berpikir, pilihannya terbatas, binasa seluruh lautan, atau membantu penyerbuan Rama. Maka Baruna menawarkan membangun sebuah jembatan, lebih lambat, tapi itu lebih masuk akal. Rama, Laksmana dan Hanoman menyetujuinya, Segera, semua pekerja dikerahkan, siang malam, termasuk penduduk lautan, dan dalam waktu singkat, jembatan dahsyat itu terwujud, membentang panjang atas nama cinta.

Dengan jembatan yang kokoh, pasukan manusia kera bagai gelombang air bah menyerbu kerajaan Alengka, dan pertempuran besar tidak dapat dihindarkan lagi. Ribuan prajurit raksasa bertahan, membela setiap jengkal istana. Duel dahsyat antara Rama dan Rahwana menjadi legenda. Dua-duanya sama digdaya, bertempur di langit-langit kerajaan Alengka. Dentum merah, kuning, biru, membuat terang langit malam. Kelebatan cahaya jingga, kuning, hijau memedihkan mata. Panah sakti milik Rama akhirnya menghujam dada Rahwana, dan raja raksasa paling sakti itu tumbang ke bumi. Rahwana, raja raksasa yang pernah membuat rusuh kerajaan langit, akhirnya dikalahkan.

Shinta berhasil direbut kembali.
***

Perkuburan kota semakin remang. Satu dua kunang-kunang mulai terbang bersiap menghiasi malam. Matahari sebentar lagi beristirahat di kaki langit. Aku menghela nafas panjang, masih menyentuh pusara berlumut Cindanita.
Seru sekali ceritanya, bukan, Nak?

Aku tersenyum, mengangguk melihat anggukan Cindanita.
Kau tahu, Nak, Ayah dan Ibumu juga bertemu melalui sebuah kejadian yang spesial. Waktu itu, kapal Ayahmu membuang sauh di pelabuhan kota kelahiran Ibumu. Para kelasi yang berminggu-minggu di lautan berseru riang, segera turun, melemaskan badan, mengunjungi keramaian kota.

Aku dan beberapa kelasi lain, pergi menuju sebuah rumah makan. Kami tidak tahu kalau di rumah makan itu sedang dilangsungkan pernikahan, jadi terlihat aneh sekali saat kami yang berseragam kelasi memasuki rumah makan. Kepalang tanggung, kami mengaku kerabat jauh yang diundang, membaur dengan undangan pesta lainnya. Pesta pernikahan itu meriah, semua terlihat bahagia menikmati acara, kecuali satu orang, mempelai wanitanya. Itu pernikahan yang dipaksakan, gadis itu terpaksa menikah dengan laki-laki berusia empat puluh tahun lebih tua, kakek-kakek tua.

Kau bisa menebaknya, Nak, celaka urusan, mempelai wanita justeru meminta kami menolongnya kabur di tengah keramaian. Kami pilihan yang tepat, kami warga asing, dan kami kelasi kapal, bisa segera pergi meninggalkan kota yang dibencinya. Semua orang waras pasti menolak mentah-mentah permintaan itu, bahkan jika mempelai perempuan mengancam bunuh diri jika tidak ditolong, itu tetap tidak masuk akal. Tapi, Nak, bukankah orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama termasuk definisi orang gila? Ayah menyetujuinya, membuat kelasi lain berseru tidak percaya.

Ayah membawa kabur mempelai perempuan ke atas kapal, maka pecahlah keributan di rumah makan, hanya hitungan jam kabar buruk segera menjalar ke seluruh kota, siapa yang telah menculik mempelai perempuan? Merusak pesta pernikahan?

Meskipun apa yang Ayah lakukan adalah hal gila, awak kapal adalah saudara sehidup semati, tidak terbilang berapa kali bersama-sama menerjang badai membawa muatan, tidak terbilang berapa kali dihadang perompak, bersama-sama melawan. Mereka membantu Ayah, kapal segera melepas sauh, pergi jauh dari kota itu.

Kau tertawa Cindanita? Kenapa?
Ahiya, kau benar, kisah Ayah mirip dengan aksi heroik Rama menyelamatkan Shinta. Kakek-kakek tua itu seperti Rahwana. Aku ikut tertawa, mengusap rambut hitam legam Cindanita.

Lantas aku membawa mempelai wanita itu ke kota ini, kota kelahiranmu. Menurunkannya di pelabuhan. Dia masih sempat membawa uang, bekal berpergian. Dia dengan cepat beradaptasi, bekerja menjadi penjaga toko cokelat. Dan kami, jika sebuah kejadian sepele saja bisa membuat orang jatuh cinta, apalagai kejadian itu, kami jatuh cinta. Aku melanjutkan perjalanan menjadi kelasi kapal, mengelilingi dunia mengirim barang-barang muatan.

Tiga bulan sekali singgah di kota ini, menjenguk mempelai perempuan itu. Di kali keempat aku singgah, kami melangsungkan pernikahan. Itu sungguh pesta pernikahan yang hebat, semua undangan berbahagia, dan yang pasti, kedua mempelai bahagia, tidak akan ada yang berusaha pergi. Mempelai perempuan itu adalah Ibumu, Nak.

Kami membeli rumah kecil di dekat toko cokelat itu. Ibumu riang terus bekerja, dan aku kembali menjadi pelaut, yang beberapa bulan baru kembali singgah. Dua tahun berlalu, semua berjalan lancar, seperti tidak akan ada masalah, kami bahagia dengan cara tersebut. Bertemu dua minggu, untuk berpisah tiga bulan. Berpisah tiga bulan, untuk bertemu dua minggu. Ayah mempercayai Ibumu, dan Ibumu mempercayai Ayah. Tidak ada yang perlu dicemaskan.

Mata bulat hitam Cindanita berkerjap-kerjap menatapku. Aku tersenyum, menyentuh pipinya yang berlesung.

Sayangnya, Nak, cerita baru saja dimulai. Sama halnya dengan kisah hebat dari India itu, kisah abadi Rama dan Shinta. Bukan, sungguh bukan petualangan Rama merebut Shinta dari Rahwana yang menjadi cerita utamanya, seperti yang disangkakan orang-orang, seperti yang lebih suka didengar orang banyak. Cerita pentingnya justeru baru dimulai persis saat pasangan abadi itu kembali ke Ayodya. Sama seperti Ayah dan Ibumu, cerita pentingnya baru dimulai ketika Ibumu mengandung.

Tentang kepercayaan. Tentang salah-satu pondasi dasar sebuah cinta. Kau mau mendengar kelanjutan cerita Rama dan Shinta, Nak? Tidak sabar? Aku tersenyum, masih lembut mengelus pipi Cindanitaku.
***

“Aku tidak bisa mempercayainya begitu saja, Laksmana.” Rama menghembuskan nafas panjang, berdiri menatap langit, tangannya bersidekap resah, sejak tadi siang dia terus berpikir.

“Bagaimana mungkin kau tidak mempercayainya, Kakanda?” Laksmana berseru putus asa, “Empat belas tahun Shinta setia menemani di hutan rimba. Empat belas tahun hidup penuh penderitaan demi mengabdi pada suaminya. Ditambah berbulan-bulan di tahan oleh Rahwana, berbulan-bulan menanggung penderitaan di sarang raksasa. Bagaimana mungkin kau tidak mempercayai Shinta?”

“Berbulan-bulan.” Rama mendesah, “Karena berbulan-bulan itulah, Laksmana. Siapa yang tahu apa yang telah terjadi di Alengka? Siapa yang bisa memastikannya?”

“Tidak.” Laksmana menggeleng kencang-kencang, seperti berusaha mengusir kalimat Rama barusan jauh-jauh, “Aku tidak percaya kalimat itu keluar dari mulutmu, Kakanda.”

Ruangan singgasana hening sejenak.
Inilah masalah baru pasangan Rama dan Shinta.

Jutaan rakyat Kosala bersorak senang saat Rama membawa pulang Shinta ke ibukota Ayodya. Kembalinya Rama juga mengakhiri hukuman empat belas tahun terbuang. Tahta raja Kosala dikembalikan oleh adiknya, Barata. Kabar tumbangnya Rahwana, raja raksasa penyebab semua masalah daratan India membuat rakyat berpesta, dan lebih besar lagi pesta itu karena yang mengalahkan Rahwana adalah raja baru mereka, Rama.

Tapi kesenangan itu hanya sebentar, entah siapa yang memulai, bisik-bisik kotor merasuki penduduk kerajaan Kosala. Kabar burung menyebar begitu cepat. Di sudut-sudut istana, di pasar-pasar kumuh, di kampung-kampung. Apalagi kalau bukan kabar burung: Shinta sudah tidak suci lagi. Berbulan-bulan ditawan Rahwana, siapa yang bisa memastikan Shinta tetap mampu menjaga diri? Rahwana adalah raksasa licik yang sakti, dia bisa menipu siapa saja, bukan?

Bisik-bisik kotor itu bagai jelaga hitam ditumpahkan di langit-langit Ayodya, membuat kelam sejauh mata memandang, dan hanya tinggal waktu saja, bisik-bisik itu tiba di telinga Rama. Rakyatnya meragukan kesucian Shinta.

“Omong kosong, Kakanda.” Laksmana berseru, “Omong kosong semua ini. Aku bersumpah, Shinta tidak akan pernah berkhianat. Kakanda seharusnya tidak mendengarkan bisik-bisik di luar sana. Di mana mereka saat Kakanda dan Shinta terusir empat belas tahun di hutan rimba? Di mana mereka saat Kakanda memimpin ribuan pasukan Wanara? Tidak ada satu pun rakyat Kosala yang peduli? Kenapa sekarang mereka peduli sekali dengan sesuatu yang bukan urusa mereka?”

Ruangan singgasana semakin tegang. Hanya mereka berdua yang ada di sana. Rama mengajak adiknya membicarakan masalah pelik tersebut.

“Tetapi mereka rakyatku, Laksmana. Aku tidak bisa menjadi Raja mereka yang baik jika mereka tidak mempercayai Ratunya.” Rama menatap kosong ke depan, resah.
“Karena Kakanda Raja dan mereka rakyat, maka Kakanda bisa memerintahkan untuk menghentikan seluruh omong kosong.” Laksmana menjawab gemas, dia mulai kehabisan cara membujuk Rama.

Rama menggeleng, urusan ini tidak sesederhana yang dipikirkan oleh Laksmana.
Apakah Shinta tetap suci? Berbulan-bulan dia ditahan di taman Asoka yang indah, di dalam istana kerajaan Alengka, dijaga belasan raksasa buruk rupa. Apakah Shinta bisa menjaga kehormatan dirinya?

Keputusan besar itu diambil Rama, dia memerintahkan agar ujian kesucian digelar untuk Shinta. Melewati api yang berkobar tinggi. Jika Shinta selamat melaluinya, maka tidak akan ada keraguan lagi.

“Apakah Kakanda masih mencintai Shinta?” Laksmana bertanya lirih, keputusan telah diambil, tidak banyak yang bisa dilakukannya.

“Aku mencintainya, Laksmana. Bagaimana mungkin kau bertanya hal itu?”

Laksmana tertunduk, “Maka Kakanda telah melakukan kesalahan besar. Kepercayaan adalah pondasi penting sebuah cinta, Kakanda telah kehilangan pondasi itu. Besok lusa, hal ini akan terulang kembali. Besok lusa, tanpa pondasi tersebut, Kakanda hanya akan menjadi olok-olok seluruh penduduk Ayodya.”

Rama terdiam, menelan ludah, menatap adiknya tidak mengerti. Ruangan singgsana lengang.

“Bukan, sungguh bukan karena ingin mendengarkan penduduk Ayodya ujian kesucian ini dilakukan.” Laksmana masih tertunduk, “Ujian ini dilakukan hanya untuk menutup resah di hati Kakanda. Besok, Shinta akan berhasil melewati kobaran api itu, tapi Kakanda, tidak akan pernah berhasil memadamkan keresahan itu.”

Laksmana membungkuk, ijin pamit, melangkah pelan menuju pintu ruangan, punggungnya hilang di antara helaan nafas Rama.

***
-- Bersambung --

Ditulis ulang dengan seijin penulis
Dari : Buku Berjuta Rasanya 2
Oleh : Tere Liye




Post Comment