WELCOME to MY BLOG

Bagi akhi & ukhti yang ingin meng-copy catatan ato artikel di blog ini, mohon cantumkan sumber setiap catatan di tersenyumlah-hati.blogspot.com demi menjaga keaslian tulisan / karya ato share dilaman networking via share tool dibawah setiap catatan...

Mari berbagi...


- Tersenyumlah -

Sabtu, 09 Juni 2012

Gerimis dan Hujan



Teruntuk dia yang gerimis hatinya
sedang menghujan...(mungkin)

Pada angin kutitipkan untuk hatimu
Terimakasih telah kau pilih, hati ini
Pun diri ini tersanjung atas maksud muliamu
Diri ini kini telah memberikan jawaban

Mungkin tak pernah terbayangkan
Juga tak terfikirkan, oleh hatimu
Bahwa hati yang kau harapkan
Telah menghancurkan setiap harapan

Tak ada niat menyakiti, meski ini sakit
Tak ada maksud menghancurkan, meski nyatanya hancur
Keputusan telah menempuh berbagai tahapan
Hingga kelak menjadi tangga kearah kebaikan, semoga

Sungguh, diri ini mengakui
Telah melakukan kesalahan
Yang membuat hatimu tak berdaya
Hingga menempatkanku, begitu dalam dihati

Semestinya, hati ini dapat menjawab
Ketika kau mengucap,
tak cukup berhargakah diriku bagimu?
Diam, berkali-kali diam
Namun, bukan karena tak ada jawaban
Biarlah Tuhan saja yang tahu
Rasa ini, entah apa

Simpulan yang kupunya
Perhatianmu yang melimpah
Juga kata cinta yang begitu indah
Dan do’a-do’a khusukmu dimalam yang sepertiga
Nyatanya belumlah cukup untuk menjadi pemimpinku
Nyatanya bukanlah cinta yang kuidamkan

Bukan semata untuk merendahkanmu
Bukan untuk menghancurkan istana megahmu
Yang kau telah dirikan dengan sepenuh harapan
Yang kau ukir dengan tawa, senyum, tangis bahagia
Dengan perhatian, dan mencintaiku

Kau katakan aku adalah abu-abu
Tak bisa apa adanya menerimamu
Tak seharusnya aku menjauh
Tak seharusnya ada penolakan itu
Ternyata sia-sia kau menunggu

Ya... Aku tak bisa melengkapi kekuranganmu
Lalu kau pun menyesal tak bertopeng : baik
Kau bilang telah persiapkan semuanya
Juga tentang penantianmu yang sebulan
Berujung luka beribu bulan
Bahwa akulah yang paling kau cintai
Setelah orangtuamu, guru-gurumu
Kemana kan kau cari ganti?

Terhenyak, terhentak
Kukatakan tiada kesia-siaan itu
Kecuali kita tak mencari makna
Dari setiap kejadian
Hikmah dari setiap keadaan

Kau lanjutkan dengan kemarahan tak berujung
Membenarkan pradugamu tentangku
Yang tak memiliki perasaan
Yang menanggapmu sebagai setan
Karena telah membuatku berdosa
Hingga mengukir ujung kisah dengan penolakan
Yang tengah memperbaiki diri untuk orang lain
Dan menjadikanmu sebagai tumbal
Yang telah membuat perhatianmu menjadi terlarang
Yang membuatmu bertanya : adilkah ini?
Lalu apa yang harus kulakukan?
Sedangkan pertanyaan bertubi-tubi kau layangkan
Salahkah untaian kata yang telah kupilih?
Salahkah jawaban yang telah ku ucap?
Begitu buruknya kah diri ini
Hingga membuatnya berpraduga sekejam itu?
Sedang ku hanya bisa menahan nafas
Tuhan,,,
Rasa-rasanya hamba telah memilih
Kata-kata yang tidak setajam pedang
Hingga dapat begitu menyayat hatinya
Pun penjelasan yang terang benderang
Hingga dia tak perlu lagi menduga
Lalu kau berucap
masih mengharapkanku
Dan meminta kesempatan
Akulah yang terbaik untukmu
Dan tak mungkin bagimu
Menghapus namaku, dihatimu
Seolah tiada pandangan dan kehendak Tuhan
Kukatakan,
Tempuhlah perbaikan diri
Mendekat pada Tuhan
Kelak Tuhan-lah yang akan memilihkan
Bidadari yang khusus dicipta
Bahkan lebih baik dari manusia
Bernama “Aku”
Kau pun mempertanyakan
Tak pernahkah hatiku merasakan
Tentang cinta, sayang
Dan tangisan malam ini?
Jika harus kukatakan
Aku mengerti, bahkan dengan sangat
Namun, ketika ku merangkai
kata-kata terbaik yang ku punya
untuk menjaga hatimu
Kau dengan sengaja menghujamkan
Praduga dan kata yang menusuk hatiku
Dengan sangaat kejam
Sadarkah kau?
Kesakitanmu, dapat kumengerti
Kemarahanmu, dapat kupahami
Lukamu, dapat kumaklumi
Meski kau tak mengerti, sakitnya aku
Walau tak kau pahami, terlukanya aku
Keputusanku, untuk menjauh
Tanpa menghiraukan sikapmu
Telah kuambil
Sesuai katamu

Keputusanku, untuk diam
Bukan hanya untuk menjaga hatimu
Juga untuk menjaga hatiku
Yang juga tak sekuat baja

Keputusanku, untuk melupakan
Sungguh bukan dalam arti sebenar
Namun untuk memaafkan
Dirimu, dan diri sendiri

Maaf yang terucap ini
Kukirimkan dari dalam lubuk hati
Teruntuk dirimu
Yang tengah dirundung hujan (mungkin)
Meski tak kunjung menghentikan
Semoga reda.. berganti gerimis
Lalu hilang...

Akhirnya kau katakan maaf
Mari bermuhasabah
Dan jika kita berjodoh
Tuhan akan mempertemukan, kelak

Tak perlu kau minta
Telah kumaafkan
dan kuamini
Namun wajarlah aku menduga
Aslikah ini, ataukah topeng sempat kau sesali?

Hujan ini,
tengah menanti
Kedatangan Pangerannya
Sedang sang gerimis tiba

Tiada sesiapa yang salah
Hanya perlu waktu, untuk memilih
Membesarkan gerimis menjadi hujan
atau menanti hujan yang lebih besar.



- Hujan pun menangis, 07 Juni 2012 -





Post Comment
READ MORE - Gerimis dan Hujan

Rabu, 25 Januari 2012

Alloh... Alloh... Alloh...

Alloh...
Alloh...
Alloh...

Duhai Yang Menggenggam Hati setiap insan, sungguh Engkau Maha Tahu apa yang tersirat dan tersurat dalam hati setiap hambaMu. Duhai Rabb, hati ini sedang sakit, lalu kuingat Kau Maha Penyembuh, maka hati ini merasa terjaga. Rabb, diri ini sudah tidak sanggup lagi rasanya mengemban beban begitu berat, jika saja tak kuingat bahwa Engkau tak menguji seorang hamba melebihi batas kemampuannya. Rabb, diri ini merasa tak kuasa lagi menahan segala isak tangis yang terpendam, seakan bertanya :”mengapa ujian demi ujian berat ini terjadi padaku Rabb?”, jika saja tak kuingat firmanMu : 


Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman," sementara mereka tidak diuji lagi? (QS. Al-Ankabut : 2).


Sungguh gemetar kaki ini dalam melangkah ya Rabb, tapi bukankah segala ujian yang menjadikan dekat denganMu ini, adalah karunia terbesar yang dinanti para pecintaMu? Hati ini merasa sedikit tersenyum, menelan semua rasa pahit ini. Bukan, bukan karena sebutan “hebat” dari keluarga atau hambaMu yang lain yang hamba harapkan, tapi sungguh dekapan kasih sayangMu, karuniaMu yang Maha Luas, serta nikmatmu yang melimpah, dan janji-janjiMu-lah yang tengah menguatkan hamba, sungguh.

Lalu aku tersenyum, ditengah kepahitan ini, bukan karena hati ini telah mati rasa, tapi karena yakin ada yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tengah menguji diri ini. Mungkin rasanya hanya menghibur diri sendiri, karena diri yang kotor ini mungkin tengah jauh dari kasih sayangMu, mungkin rezeki yang hamba peroleh tak kunjung mengundah barokahMu, ada yang tak tersyukuri dari apa yang sudah hamba peroleh.

Sedih, gelisah, dan terpuruk, mungkin itu yang kini sedang melanda hambaMu yang lemah ini ya Rabb, tapi ketika itu diri ini menghibur diri dengan mengutip kata-kata : “kepedihan itu sepaket dengan kesenangan, kan?”. Meski bukan dari kutipan firmanMu, tapi setidaknya itu benar bukan? Bahkan Engkau menjamin setiap satu kesulitan dengan berbagai kemudahan


Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Hanya saja, dosa-dosa yang mungkin telah menghitamkan hati ini, membuatnya ragu atas janji-janji Agung-Mu. Kelumitan masalah demi masalah telah mengusutkan hati ini yang seharusnya lurus dijalanMu. Rabb, ketika hamba menerjang semua ini, tersirat dalam hati ini, kapan bahagia itu datang? Kadang hati ini merintih, ya Alloh, kapan tabir ini membuka kegelapan hidup ini? Kapankah ada mujahidMu yang berkenan menjadi penopang jiwa, penguat hati, dan pemberi nasihat kebaikan akan bersanding disisi? Jauh kelubuk hati ini Rabb, jiwa ini sepi, hati ini hampa. Sungguh Engkau Maha Tahu apa yang ada dihati ini.

Rabb, sekelumit masalah ini tengah mengungkung diri hamba, menyesakkan dada, pun menyerakkan suara dan langkah yang dulunya menggelegar. Hati ini terlalu kecil untuk menerima anugerah ujian dariMu ini Rabb. Ya! mungkin belum, belum cukup besar hati ini menerima dan menjalani semua ini. Hingga pada akhirnya berprasangka baik kepadaMu menjadi tantangan teramat berat, sulit sekali rasanya mencerna kalimat indah itu, “Sesuatu yang menurutmu baik untukmu, belum tentu baik menurut Allah untukmu. Dan sesuatu yang menurutmu buruk bagimu, belum tentu buruk menurut Allah bagimu”.
Rabb, Engkau Maha Tahu, seseorang telah menyakitkan hati ini, sementara dia sempat meninggikan hati ini, membuat hati ini terlalu melayang dilangit, hingga terasa sangat sakitnya ketika terjatuh, perih ya Alloh, hancur bahkan. Kini ketika pecahan-pecahan hati yang terserak tengah hamba punguti dengan menjahit robekan demi robekan luka, ketika hati ini hampir utuh, tiba lagi ketetapanMu untuk sekali lagi hati ini hancur. Terlalu berharap pada manusia, ya! Itulah faktor terbesar Engkau menyatakan hati ini pantas hancur. Mungkin yang diri ini lakukan telah salah, yang harus dilakukan adalah membiarkan serpihan itu menghilang, dan meminta padaMu hati yang baru, agar terbebas dari harapan-harapan lama yang semu. Engkau menghancurkan hati ini demi menggantinya dengan yang baru, kali ini itu yang akan hamba coba rajut kembali, prasangka baik padaMu.

Rabb, jika ujian demi ujian ini Engkau turunkan pada orang-orang berdosa, sungguh hamba mohon keampunanMu. Jadikanlah setiap tetesan air yang menganak sungai dipipi ini, menjadi pengugur dosa yang telah lalu, menjadi pembersih hati yang terlanjur kotor, menjadi syariat pendekat hati ini kepadaMu. Rabb, jadikan ujian ini menjadi titik langkah menjadi selalu dekat denganMu, jika ujian ini Engkau timpakan untuk menaikkan derajat hambaMu yang hina ini, maka lembutkanlah hati ini agar ridho dengan ketetapanMu, luluhkanlah hati ini agar tak takabur merasa selalu kuat, lalu pandulah hati ini agar bersabar menjalani setiap jalan berliku ini, jernihkan pikiran ini untuk melihat jalan keluar yang sesuai dengan ketetapanMu, yang maslahat ya Rabb, yang barokah. Sabarkanlah hati ini untuk menanti pelangiMu, berikan rezeki yang halal barokah ya Alloh, serta kebahagiaan batin dari KasihSayangMu, Aamiin ya Rabb.

Ijinkan kali ini hamba merintih dengan segala keremukan hati ya Alloh, dengan segala kelemahan jiwa, dengan segala keterpurukan diri... Allohu akbar, Allohu akbar, Alloh... Ya Alloh... Peluk hamba ya Alloh...








Post Comment
READ MORE - Alloh... Alloh... Alloh...

Jumat, 13 Januari 2012

Memahami arti cinta

repost from http://arti-cinta-sesungguhnya.blogspot.com/ 
tanggal : 18 Oktober 200
 
 
 
Sahabat-sahabatku yang baik,

Sebagian kita sudah banyak yang mncoba mengartikan kata "cinta", namun terkadang kita malah terlena dengan definisi masing-masing soal kata ini, tanpa mengetahui apa hakikat dari sebuah cinta. Sudah terlalu banyak puisi yang membahas tentang cinta, sudah terlalu banyak lagu yang dicipta atas dasar cinta, sudah terlalu banyak pula sang pujangga menjadikan cinta sebagai topik utama... Lalu apakah arti cinta?

Berikut beberapa arti cinta yang dapat penulis kutip :
  • Cinta adalah keinginan untuk selalu bersama & keinginan untuk memiliki.
  • Cinta itu perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya karena ketertarikan terhadap sesuatu yang dimiliki oleh lawan jenisnya.
  • Cinta itu adalah sesuatu yang murni, putih, tulus dan suci yang timbul tanpa adanya paksaan atau adanya sesuatu yang dibuat-buat.
  • Cinta adalah perasaan hangat yang mampu membuat kita menyadari betapa berharganya kita, dan adanya seseorang yang begitu berharga untuk kita lindungi.
  • Cinta adalah kata yang memiliki banyak makna, bergantung bagaimana kita menempatkannya dalam kehidupan.
  • Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Alloh SWT pada manusia.
  • Cinta merupakan anugerah yang tak ternilai harganya dan itu di berikan kepada makhluk yang paling sempurna, manusia.

Dan mungkin berpuluh-puluh arti cinta lainnya yang sahabat2 definisikan.



Cinta itu adalah anugerah dari Alloh SWT, setuju?

Sesuatu dikatakan anugrah, itu artinya dia dapat membawa kebaikan, kebahagiaan, dan kesenangan. Cinta itu membuat hidup yang kita jalani menjadi indah, dengan cinta kita bisa bahagia, dengan cinta pula kita dapat hidup diliputi kesenangan. Maka cinta dapat dinyatakan sebagai anugerah. Lalu kita bertanya, jika cinta adalah anugerah, mengapa anugerah itu sering kali membuat kita menyita sekian banyak waktu kita yg berharga? mmbuat kita merasakan sakitnya terluka? hingga membuang begitu banyak air mata kita? Lalu kita mencari apa yg bisa kita jadikan kambing hitam, yg mmbuat hati kita terasa begitu perih...ya, dia adalah sang anugrah bernama Cinta. Inilah yang akan kita coba renungi.


Cinta terbagi kedalam dua unsur. Cinta positif dan cinta negatif.


Konten dari cinta positif :
  • Saling membangun
  • Menjadikan pribadi yang lebih baik
  • Memecahkan masalah
  • Saling berbagi
  • Saling berlomba dalam kebaikan
  • Ingin melakukan yang terbaik


Sedangkan konten dari cinta negatif :

  • (hanya) N A F S U


Sesuatu yang positif, tentu adalah kebaikan. Cinta adalah kebaikan, bisa jadi benar. Namun, jika kita mencarai cinta dengan hal yang negatif, maka cinta akan berdampak negatif pula. Lalu, apakah cinta itu salah? Apakah kita tidak boleh mencintai? Sama sekali tidak! Yang kita perlu lakukan adalah mencarai cinta dengan benar, bisa jadi cinta yang semula adalah anugerah, malah menjadi bencana, ketika kita mencarainya dengan cara yang salah, dengan cara yang tidak disukai oleh sang Pember Anugerah. Jadi bukan cintalah yang salah, bisa jadi kita yang salah, bisa jadi kita yang salah mencarai cinta. Naudzubillahi min dzalik!



Sekedar Renungan

Dalam suatu kehidupan sehari-hari, adalah wajar jika kita ingin berbuat baik kepada orang lain. Sebagai renungan, jika dalam suatu keadaan sehari-hari, seorang wanita membutuhkan bantuan seseorang untuk mengantarnya pulang, karena hari sudah larut malam. Dalam keadaan terdesak, seseorang pria menawarinya pulang naik motor. Padahal sang pria bermaksud baik, sang wanita seharusnya bisa berpegangan pada besi di motor, namun sang wanita melingkarkan tangannya ke sang pengemudi. Sehingga motor yang semula menjadi fasilitas penolong tiba2 berubah menjadi tempat berpelukan! Lalu niat pria mengantarnya dalam keadaan terdesak yang salah? ato kitanya yang salah?


Jika terbalik, sang wanita memang berpegangan pada besi motor, namun jok motor yang seharusnya rata dengan kemiringan 5 derajat, ternyata telah dimodifikasi dan berubah naik menjadi 10 derajat atau lebih. Apa tujuannya? Motornya yang salah? ato kitanya?


Lalu pada saat kita mengajak seseorang untuk makan, itu kebaikan bukan? Namun, lalu kita memilih hanya tempat untuk berdua-duaan saja. Sedang berdua-duaan itu adalah jalan masuknya hawa nafsu. Lalu makannya yang salah? ato kitanya?


Kita nonton film terbaru, yang toh dapat diambil kebaikannya dalam film tsb. Itu sebuah kebaikan. Namun, saat kita memilih kursi pojok yang gelap dan tak terjangkau oleh pandangan manusia lain, lalu saling berpegangan tangan ato bahkan lebih. Filmnya yang salah? ato kitanya?


Kita diberi handphone oleh orang tua, ato bahkan kita beli sendiri dengan uang jerih payah kita, dengan tujuan memudahkan komunikasi & silaturahmi. Itu sebuah kebaikan! Namun, saat kita terus menerus online dan asyik bertelpon ria dari jam11 malam sampai akhir menjelang shubuh, lalu ketiduran ketika adzan berkumandang. Handphonenya kah yang salah? ato kitanya?


Lalu dengan susah payah kita membeli laptop dengan menguras keringat kita, bahkan jika sampai menguras tenaga orang tua kita, dengan alasan untuk memudahkan mengerjakan tugas. Lalu tugas diabaikan dan kita lebih asyik main game daripada menghiraukan panggilan orang tua kita yang mmbutuhkan pertolongan atau bantuan. Laptop kah yang salah ato kitanya?


Sehingga internet pun dipasang untuk melancarkan pengerjaan tugas, dengan memakan biaya yang tidak sedikit. Tapi akhirnya, kita lebih asyik online internet, chatting, browsing, bahkan update status dan comment status di facebook teman kita, daripada mendengarkan nasihat orangtua kita. Internet yang salah? ato kitanya?


Semoga kita dapat mengambil hikmah dari apa yang telah kita dapatkan, dan mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari.

Blog ini dibuat hanya untuk saling berbagi, bukan saling mencemooh, merendahkan dan menghina... Kesempurnaan hanya milik Alloh SWT, penulis memohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan.




Post Comment
READ MORE - Memahami arti cinta

Kamis, 22 Desember 2011

Sebuah Rahasia



Setiap orang memiliki rahasianya sendiri-sendiri. Rahasia yang disimpan rapat, yang hanya ingin mereka bagi bersama kenangan. Dan kau tahu, kekasihku... "Kita" adalah rahasia terbesar milikku. Kita yang dulu pernah tertawa bahagia menyusuri cinta. Kita yang pernah menyulam rindu di dinding-dinding malam gulita. Kita yang saling mencari, saling menggenapi, saling menguatkan. Yah, kita...

Tapi, tak ada yang abadi di dunia ini selain keabadian itu sendiri. Kita yang bahagia tak lebih dari sepasang manusia yang terbuai mimpi. Baru menyadari setelah terbangun dengan luka dan air mata yang menderas di pipi. Bukan salahku, bukan juga salahmu. Bahkan bukan salah keadaan. Kita hanyalah seperti anak-anak burung yang sedang belajar terbang. Sayap-sayap kita begitu lemah dan tak terlatih. Luka yang akan menguatkannya, dan air mata yang akan mengajarinya. Membuat sayap-sayap kita kokoh, dan mampu membawa kita terbang tinggi di kehidupan ini.

Aku harap, meski tanpa aku di sisimu, kau tetap belajar mengepakkan kedua sayapmu. Capailah gunung yang tinggi, melayang, menikmati setiap bahagia yang ditawarkannya. Ada dia yang akan mengajarimu terbang sempurna. Bukan aku. Genggam erat tangannya, dan terbanglah bersamanya. Aku? Tak perlu kau hiraukan. Akupun pasti akan terbang. Tapi tidak sekarang. Luka-luka milikku terlampau perih. Jangan khawatir, Tuhan tengah membalut lukaku. Aku hanya butuh waktu dan terus bersabar.

Saat nanti kau melihatku lagi, meski air mataku kembali menderas, jangan pernah kau perdulikan aku. Kisah kita dan segala airmata hanyalah cara-Nya mendewasakan kita. Tapi satu yang aku ingin kau tahu, bulir-bulir yang menetes dari kedua mataku adalah bukti cintaku padamu yang tak pernah mengering bersama detik yang berlalu. Jika saat itu tiba, kau akan menyadari, cinta sejati itu benar-benar ada. Cintaku padamu. Cinta yang tak pernah menjeda oleh waktu, meski tidak ditakdirkan untuk bersatu.

 ---
Rahasia ini akan rapat kusimpan, dan hanya akan kubagi bersama kenangan...

Note : Dedicated to my everlasting Rainbow
Tetap terbanglah tinggi, menjemput bahagia yang kau ingini. Doaku mengiringi.






Post Comment
READ MORE - Sebuah Rahasia

Selasa, 20 Desember 2011

Biarkan Aku yang Mengundurkan Diri ♥♥♥♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥

Kisah ini kembali ku urai bersama kenangan-kenangan yang pernah terlukiskan dalam memori jiwa… Saat semuanya terasa menyesakkan dada, ketika semuanya tak bisa lagi terlukiskan lewat kata-kata. Aku hanya bisa terpaku meratapi… Secebis rasa yang mesti ku akhiri. Penuh luka dan bersimbah air mata, namun tetap harus dijalani. Meski aku tak pernah meminta ini untuk terjadi.


Percikan iman membuatku begitu yakin atas keputusan ini.. mungkin ini memang jalan terbaik untuk kita. Untuk perjalanan yang telah kita lalui berdua, tanpa adanya Ridho Ilahi.

Kau hadir mengisi kehidupanku. Kau ketuk pintu hatiku, yang membuatku enggan berpaling dan menjauh darimu. Kau hadirkan bunga-bunga asmara antara kita. Hingga sampai saat dimana ku tersadar, entah jalan apa yang sedang kulalui ini. Tanpa petunjuk mana yang benar dan mana yang salah.. karena semua masih nampak abu-abu, belum jelas ujung dari semua ini.

Tersirat ku katakan aku telah siap! Mengarungi hidup bersamamu. Pun ku yakin kau siap dengan semua yang terjadi pada kita. Apalagi yang membuatku tak yakin, bahwa kau adalah yang terbaik bagiku? Sementara semuanya begitu indah di jalani bersama, meski masih ilegal.

Kau selalu memberikan harapan serta angan yang entah berujung pada akhir yang bahagia atau sebaliknya, berakhir pada duka nestapa karena telah tersia-sia waktu yang kita lewati bersama. Tutur katamu manis.. Tapi tak semanis janji-janji yang kau janjikan padaku! Tak terasa, detik demi detik kita jalani bersama, tanpa ada kepastian yang jelas, apa maumu sebenarnya?

Apalagi yang membuat kau bungkam? Menekuk wajah tanpa kata... Padahal sikapmu begitu yakin bahwa akulah yang terbaik untukmu. Tapi mengapa sampai saat ini, tak ada perjuanganmu untuk mengetuk hati mreka, sementara jauh sebelumnya kau telah mengetuk pintu rumah hatiku, meminta izin masuk namun hanya berani sampai beranda rumah hatiku. Kenapa keberanianmu belum ada untuk perjuangan itu? Sedangkan aku disini tengah mendukungmu dengan segenap tenaga dan hati, melakukan yang terbaik, untukmu, untuk kita.

Sampai pada kesimpulan.. Belum ada keberanian untuk melangkah. Dengan berbagai hal yang kau jadikan alasan yang menjadi pertimbangan, seolah berat sekali ketika kau akan mengajukan proposal pernikahan kita. Mengombang-ambingkan hatiku dalam penantian, yang entah berujung atau bahkan seharusnya memang tak pernah kumulai.

Astaghfirullah!
Kini ku putuskan, setelah aku tersadar dan terbangun dalam impianku selama ini.. Hanya ada dua pilihan yang meski ini berat namun harus segera ku ambil langkah, sebab menunggu keputusan darimu tak membuatku bersabar dan akan semakin menjerumuskanku dalam genangan-genangan dosa tak berujung. Ya..!! Benar. Entah mungkin akan berakhir atau akan di akhiri, itulah yang sedang ku mintakan petunjuk pada-Nya.

Maafkan...
Karena aku belum bisa memberi seperti apa yang telah engkau beri padaku. Bukan soal cinta, bukan soal rasa. Sebab bagiku kedua hal itu telah menjadi hal yang paling tak kuperhitungkan dalam pikiranku saat ini. Aku tak boleh mudah terpancing dengan dua hal tersebut karena justru itu akan membuatku semakin jatuh dan terpuruk seperti dahulu.

Jangan pernah kau katakan cinta padaku, sebelum kau berani menghadap kedua orang tuaku, juga orangtuamu. Ahh, aku sudah lelah. Memang tidak seharusnya aku mengatakan hal itu kepadamu... Siapalah aku ini sehingga bisa membuatmu berani berjuang menentang badai?

Sekarang bahkan rasa itu kian menipis. Mungkin karena sudah bosan aku memiliki rasa terhadapmu. Kau katakan aku tidak bersabar? Bisa saja. Aku memang tidak sesabar dirimu, yang entah dengan alasan apa kau mampu bersabar menantiku. Padahal jauh lama sudah, pintu hatiku telah terbuka untukmu.

Maaf.
Aku ingin tetap menjaga hatiku, sedikitpun tak ingin terkotori oleh sebuah rasa ini. Ya, ternyata lagi-lagi aku berhadapan dengan yang namanya sebuah perasaan. Entah bagaimana aku mampu menghadapinya. Entah cara apa lagi yang akan ku lakukan. Semua ku pasrahkan...

Segala yang hadir bagai setitis air mata seulas senyuman. Dan, kemudian jiwa jadi terpisahkan dari jiwa yang lebih besar, bergerak di dunia zat melintas bagai segumpal mega diatas pegunungan. Suka dan duka, bagai sebuah perjalanan... Dan bermuara pada kebahagiaan. Menuju pada keindahan dan kecintaan Tuhan saja...

Aku rasa Tuhan menyayangiku dengan begitu indahnya, dengan perpisahan yang tak pernah ku bayangkan, DIA memisahkan ku dengan angan yang tak pantas ada didalam hatiku. Atas nama cinta dan demi menjaga keutuhan cinta kita kelak, bila takdir bersama..... Allah kan persatukan...

Lalu,
Biarkan aku yang mengundurkan diri.
Dari kehidupanmu, kini..
Dan tolong, jangan ganggu aku lagi ...


20 Desember 2011
Di tengah keramaian - (tetap) kulihat bayangmu
Meli

 inspire : facebook



Post Comment
READ MORE - Biarkan Aku yang Mengundurkan Diri ♥♥♥♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥